PENJUAL TEROMPET
Di pagi hari, tepatnya satu hari sebelum pergantian tahun baru, Nampak seorang anak yang berjualan terompet sedang menjajakan terompetnya di taman, di tengah aktivitas banyak orang. Dengan semangatnya dia menawarkan terompetnya kepada orang-orang yang berjalan didekatnya. Saat ada seorang ibu yang berjalan dengan kedua anaknya yaitu anak perempuan dan anak laki-laki, Dengan riangnya dia(anak penjual terompet) menawari ibu itu terompet, “bu silakan beli terompet untuk anak ibu, beli satu Cuma Rp. 4.000”. Ibu itu pun menjawab “tidak nak, kami sudah punya dirumah.”
Tetapi anak perempuannya, menangis dan ingin membeli terompet itu. Sekali lagi, penjual terompet itu menawari ibu itu, “silakan bu, beli terompetnya.. ini murah kok, saya dan ayah saya yang membuatnya.”
Karena merasa kasihan kepada anak penjual terompet itu dan anak perempuannya yang terus menangis ingin terompet, akhirnya ibu itu membeli 2 terompet untuk anaknya, dengan wajah senang, anak penjual terompet itu mengucapkan terimakasih kepada ibu itu, karena telah membeli terompetnya.
Tetapi anak perempuannya, menangis dan ingin membeli terompet itu. Sekali lagi, penjual terompet itu menawari ibu itu, “silakan bu, beli terompetnya.. ini murah kok, saya dan ayah saya yang membuatnya.”
Karena merasa kasihan kepada anak penjual terompet itu dan anak perempuannya yang terus menangis ingin terompet, akhirnya ibu itu membeli 2 terompet untuk anaknya, dengan wajah senang, anak penjual terompet itu mengucapkan terimakasih kepada ibu itu, karena telah membeli terompetnya.
Tidak lama kemudian, ada seorang pria yang mendekati anak penjual terompet tersebut, pria itu memberinya uang Rp. 10.000 dan berkata “Ini nak, anggap saja sebagai sedekah. Kemudian anak penjual terompet itu menjawab, "Om, saya mohon maaf. Jangan marah ya. Ayah saya mengajarkan kepada saya untuk mendapatkan uang dari usaha berjualan atas jerih payah sendiri, bukan dari mengemis. Terompet-terompet ini dibuat oleh ayah saya sendiri dan ayah pasti kecewa dan sedih, jika saya menerima uang dari Om bukan hasil dari menjual terompet. Tadi Om bilang, uang sedekah, maka uangnya saya kembalikan pada om." Si pria merasa takjub dan menganggukkan kepala tanda mengerti. "Baiklah, berapa jumlah semua terompetmu? Saya akan membeli semua terompetmu. Saya borong semua untuk anak-anak di panti asuhan." Si anak pun segera menghitung terompet dengan gembira.
Sambil menyerahkan uang si pria berkata, "Terima kasih Nak, atas pelajaran hari ini. Sampaikan salam saya kepada ayahmu." Walaupun tidak mengerti tentang pelajaran apa yang dikatakan si pria, dengan gembira diterimanya uang itu sambil berucap, "Terima kasih, Om. Ayah saya pasti akan gembira sekali, hasil kerja kerasnya dihargai dan itu sangat berarti bagi kehidupan kami."